Desaku Sahabatku


Waktu itu saya mendapat tugas Bahasa Indonesia untuk membuat cerpen. Hasilnya adalah cerpen ini. Silakan menikmati.

=========

Sudah lama kunantikan kedatanganku kembali ke desa tempatku dilahirkan. Saat itu hari masih siang. Udara yang sejuk serta suasana yang tidak begitu ramai juga tidak begitu sepi. Serta penduduk yang telah lama tidak kulihat.

Aku kembali ke desa dengan kereta. Perjalanan yang kutempuh kira-kira 12 jam lamanya. Memang, sangatlah lelah ketika sampai di tempat tujuan, tetapi tubuhku kembali menjadi segar dengan pelukan yang hangat dari kedua orang tuaku. Ternyata mereka telah menungguku. Pelukannya sangat kurindukan. Telah sekian lama aku meninggalkan mereka berdua. Diriku yang hanya satu-satunya yang dimiliki oleh mereka, kini telah kembali ke pelukannya.

“Ayah…ibu…aku pulang,” Sambutku kepada mereka berdua.

“Iya, nak. Kamu telah pulang. Kami sangat merindukanmu,” Kata ibuku sambil meneteskan air matanya.

Akhirnya pelukan mereka terlepas dari tubuhku. Sambil berbincang-bincang, kami menelusuri stasiun kereta api dan keluar hendak menuju rumah. Sudah lama tidak kulihat rumahku.

“Hei, Ritna! Ini aku, Dodi.”

“Hah! Dodi! Sudah lama sekali kita tidak bertemu.”

“Eh, nak Dodi. Ritna sudah pulang lho,” Kata ibuku.

“Kapan kamu kembali?” Tanya Dodi.

“Baru saja,” Sahutku.

Kami berempat kemudian berjalan bersama-sama menuju rumahku. Tetapi, di tengah perjalanan Dodi pamit kepada kami karena ia punya sebuah urusan dengan sawahnya itu. Ya, Dodi memang seorang lelaki yang baik, rajin, bahkan bertanggung jawab. Kami merupakan sahabat sejak kecil.

Akhirnya kami tiba di rumah. Aku sangat senang bisa melihat rumah ini kembali. Kutelusuri satu demi satu ruangan dan ternyata, tidak ada yang berubah. Isi kamarku tetap sama dengan saat kutinggalkan rumahku ini. Itulah yang membuatku sangat senang.

“Bagaimana, nak? Ibu masih membiarkan isi kamarmu sama persis dengan saat kamu belum meninggalkan rumah ini,” Kata ibu.

“Aku sangat bahagia, bu. Terimakasih,” Ucapku.

“Ayah, bolehkah aku pergi ke sawah Dodi?” Tanyaku.

“Silahkan, nak. Tetapi ingat, jangan pulang terlalu larut,” Pesan Ayah.

“Terima kasih , ayah.”

Aku dengan segera pergi menuju sawah Dodi. Dalam perjalanan, aku sempat berpapasan dengan Cika. Cika merupakan teman dekatku. Sama seperti Dodi, aku dan Cika telah berteman sejak kecil. Aku mengajak Cika untuk bertemu dengan Dodi di sawahnya. Cika pun menyetujuinya.

Sesampainya di sawah, kami melihat bahwa Dodi sedang dimarahi oleh ayahnya. Untuk mendengar mengapa Dodi dimarahi, kami berdua mengendap-endap mendekati mereka berdua sedekat yang kami bisa agar tidak ketahuan.

“Dasar! Sudah berapa kali ayah bilang untuk menggunakan pupuk kimia ini. Pupuk ini harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan pupukmu itu. Mengerti tidak?” Bentak ayah Dodi.

“Aku mengerti, ayah. Tetapi, pupuk kimia tetaplah pupuk kimia. Mereka akan membuat tanaman kita menjadi kurang sehat untuk dimakan, yah. Kasihan mereka yang akan membeli tanaman kita,” Jelas Dodi.

“Biar saja. Toh, itu salah mereka, kenapa beli tanaman kita? Pokoknya demi mendapatkan untung yang besar, ayah rela untuk menggunakan pupuk kimia ke tanaman ini. Pulang saja sana! Kau mengganggu ayah!” Bentak ayah Dodi.

Dodi yang dibentak oleh ayahnya itu kini berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia berjalan keluar dari daerah sawah itu entah menuju kemana. Sepertinya ia juga berjalan tanpa tujuan. Kami yang melihatnya berjalan itu, menghampirinya sambil menjaga diri apabila ketahuan oleh ayah Dodi.

Begitu sampai di tempat Dodi yang sedang duduk. Ia menceritakan kejadian tersebut. Kami juga bercerita bahwa kami telah mendengarnya secara langsung. Dodi sempat kaget saat mendengar hal itu. Lalu, ia terdiam kembali. Kami berusaha untuk menghiburnya. Dodi adalah sahabat kami, kami tidak mau ia sedih.

Setelah sekian kalinya kami menghiburnya, Dodi mempersilahkan kami untuk pulang. Ia tidak ingin diganggu saat ini. Cika mengatakan kepadaku bahwa sebaiknya kami meninggalkan Dodi sendirian untuk menenangkan dirinya.

Setibanya di rumah, aku tidak menceritakan hal itu kepada ayah maupun ibuku. Aku tidak mau hal ini menjadi masalah keluarga. Ketika aku berpikir bagaimana cara untuk menghibur Dodi, ternyata aku tertidur.

***

Setelah 3 bulan lamanya aku dan Cika tidak pernah sekalipun berbicara dengan Dodi. Kami sudah tidak ada ide untuk membuat Dodi kembali ceria seperti sedia kala. Setiap kali aku bertemu dengannya, ia selalu memalingkan wajahnya dari hadapanku. Entah apa lagi yang terjadi Setelah kejadian yang kusaksikan bersama Cika itu.

Saat itu kami berencana untuk berbicara dengan Dodi, oleh karena itu kami mendatangi sawah ayahnya. Di sawah, terlihat Dodi dengan wajah lesu seperti biasanya. Ketika kami mendatanginya, ia malah membentaki kami untuk tidak mendekat. Kami terpaksa untuk tidak mendekat.

Pada malam hari, aku dan Cika sempat berbincang-bincang tentang kelakuan Dodi selama ini. Kami tidak habis piker Dodi yang begitu baik, sekarang membenci kami.

Tiba-tiba, terlihat asap yang membumbung tinggi dan nyala api dalam kegelapan malam itu. Nyala api itu ternyata berasal dari sawah Dodi. Aku dan Cika dengan berlari menghampiri sawah Pak Komar, ayahnya Dodi. Setibanya di sawah, tanaman yang telah dirawatnya selama 3 bulan itu kini telah habis dimakan lautan api.

Kami tidak melihat adanya Dodi di sana. Hanya ibu dan ayah Dodilah yang datang. Ibu Dodi terlihat sedang menangis melihat sawah yang terbakar itu sedangkan ayah Dodi terlihat emosi karena terbakarnya sawah itu.

“Coba saja kutahu siapa yang telah melakukannya, pasti akan kucincang tubuhnya. Lihat saja,” Kata Pak Komar.

Kami kemudian mencari dimana Dodi berada, ternyata ia sedang duduk bersender di  bawah sebuah pohon yang tidak jauh jaraknya dari sawah ini. Wajahnya terlihat pucat dan napasnya sepertinya terengah-engah.

Di dalam benakku, aku merasa curiga dengan Dodi.

“Apakah Dodi yang melakukan hal ini?” Tanya diriku di dalam hati.

***

Keesokan harinya, aku mendatangi sawah itu. Saat itu kulihat sesosok tubuh pria. Ternyata pria itu adalah Dodi. Ia sedang duduk sambil menutupi wajahnya dengan tangannya. Sepertinya ia sedang menangis. Aku menghampirinya dan menyebut namanya.

“Dodi.”

“Ritna, sudahlah. Pergi saja. Aku tidak mau kau terlibat masalah ini. Cepat! Pergi. Kumohon. Huhuhu…” Tangis Dodi.

Aku terpaksa pergi meninggalkannya.

Pada sore hari, aku duduk di teras rumah sambil menceritakan hal itu kepada Cika. Di lain tempat, Dodi datang menghampiri ayahnya. Ia menceritakan seluruh kejadian itu. Mulai dari bahwa ia yang membakar sawah itu, sampai alasan mengapa ia membakarnya.

Ayahnya, tentu saja sangat murka. Ia mengambil salah satu golok yang dipajang didinding dan mengayunkannya kearah Dodi. Ibu Dodi yang melihat hal itu mencegahnya dengan meneriaki Pak Komar. Pak Komar pun akhirnya tersadarkan. Ia membuang jauh-jauh golok itu dan menampar wajah Dodi.

“Ingat, nak. Sekali lagi kau melakukan hal itu lagi, ayah akan benar-benar membunuhmu. Camkan itu. Ayah berjanji tidak akan memakai pupuk kimia lagi. Oleh karena itu, ayo kita bereskan urusan sawah dan tanam lagi bibit yang baru,” Kata Pak Komar.

Dodi yang mendengar kata-kata ayahnya itu kini kembali ceria menjadi Dodi yang sedia kalanya. Ia mendatangi aku dan Cika di rumahku dan menceritakan seluruh hal tersebut. Aku dan Cika memahaminya dan tidak memarahinya, malahan kami membantu Dodi bekerja di sawahnya itu.

The End

About Deni Yang

Not much to describe. Just an ordinary boy.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates @yDeni

Error: Please make sure the Twitter account is public.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 15 other followers

Flickr Photos

Two big towers in #Sudirman #carfreeday #jakarta #phaseui80 #phase80 #sky #cloud #sports #jogging #health

Ladders to the next level

DSCN1030

More Photos
%d bloggers like this: