Live In Yogyakarta-Boro 2008


Tepat pada hari ini, 10 Juni 2008, saya kembali dari Yogyakarta. Apa yang sebenarnya saya lakukan di sana? Jawabannya adalah mengikuti salah satu kegiatan di sekolah yang disebut dengan Live In. Kegiatan Live In ini baru 2 kali diadakan oleh sekolah saya, oleh sebab itu dapat kita sebut sebagai program awal dan diharapkan bisa merintis di tahun selanjutnya.

Kegiatan Live In kali ini diadakan dengan kerja sama antara sekolah saya dengan Paroki St. Maria Liseux Boro, Kalibawang Kulon Progo, Yogyakarta. Diadakan mulai dari tanggal 5 hingga 10 Juni 2008. Diikuti oleh 37 murid dan 4 orang guru.

Pertama-tama akan saya jelaskan terlebih dahulu apa itu Live In. Live In merupakan sebuah program dimana kita akan menetap di suatu pedesaan selama beberapa hari dan mengikuti segala kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang desa yang kita tempati itu. Saya sendiri menetap di salah satu rumah di desa Gejlig bersama Steven CP, teman saya. Kami tinggal di sebuah keluarga yang dikepalai oleh Pak Priyo, dengan anggota keluarga lainnya: Bu Narti, Mas Eko, Bambang, Gani, dan Mbok.

Apa saja yang saya kerjakan selama kegiatan Live In?

1. Pekerjaan Dapur

Pekerjaan dapur yang saya maksud adalah:

  • Mencuci piring dan peralatan makan
  • Memotong cabai dan kulit sapi (masak)
  • Menanak nasi kuning
  • Mengulek bumbu masakan
  • Membuat dan menggoreng klanting
  • Memotong ketela hingga dibuat menjadi kripik singkong

2. Berladang

Kegiatan yang satu ini merupakan salah satu kegiatan yang paling berkesan bagi saya. Kami bersama-sama dengan tetangga lainnya (Wiempy dan Regan) pergi ke ladang milik ayahnya. Di sana kami memotong rumput / merumput dengan menggunakan cerulit. Sangat tajam cerulitnya walaupun terlihat karatan. Tujuan dari merumput ini adalah untuk mengumpulkan makanan bagi hewan ternak yang dipelihara oleh ibu dan bapak, seperti halnya kambing, sapi. Ketika sudah banyak rerumputan yang dikumpulkan, maka seluruh rumput tersebut diikat menggunakan tali yang terbuat dari kayu. Kemudian diikatkan kepada selendang lalu digendong dengan tubuh bagian belakang. Sungguh berat rasanya untuk menggendong seluruh rumput tersebut. Mungkin bisa sampai 15-20 kg. Selain bersama dengan orang tua Wiempy-Regan, kami juga pernah pergi berladang dengan Mbok di ladang milik Pak Priyo.

3. Makan

Mengenai makanan, makanan yang pertama kali saya santap adalah tiwul. Tiwul merupakan makanan menyerupai nasi yang dibuat dari daun singkong yang dibuat kecil-kecil, lalu dimakan bersama-sama dengan kelapa yang sudah diparut. Makanan yang disajikan, walaupun tidak sama dengan makanan di kota, tetaplah merupakan makanan yang enak. Saya bersama teman saya selalu minta tambah nasi kalau makan.🙂 Yang paling berkesan adalah, saya makan daging anjing. Rasanya? kulitnya keras.

4. Menonton Latihan Kuda Lumping

Seperti halnya orang di pedesaan, mereka sangat menyukai berbagai pementasan tari tradisional, dan salah satunya adalah kuda lumping. Kami diajak bapak untuk menonton latihan kuda lumping. Perjalanan dari rumah menuju lokasi latihan cukup jauh. Perlu memakai senter untuk berjalan (sudah malam).

5. Pasar

Hari Minggunya, kami ke pasar bersama Wiempy, Regan, dan ibu. Untuk ke pasar, kami bangun tidur jam 4 pagi, dan berangkat turun gunung menggunakan mobil angkutan. Ramai dan sempit. Di pasar kami makan sate ayam. Cukup enak. Lalu, kami juga berjalan-jalan membeli makanan lainnya. Untuk pulang ke rumah, kami memilih untuk berjalan kaki naik gunung yang memakan waktu 1 jam 11 menit. Wah, capeknya bukan main, mendaki gunung hanya untuk pulang ke rumah.

6. Mandi

Untuk mandi, kami pernah mandi bersama-sama teman di sumber air (sumur), kamar mandi di rumah, dan kamar mandi di sekolah. Airnya dingin.

7. Bazaar

Hari Minggu setelah dari pasar, kami menuju ke sekolah untuk membantu kegiatan Bazaar sekolah kami. Kami berjualan baju tentunya dengan harga yang murah. Dagangan kami pun laku hingga habis.

8. Panti Asuhan

Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk datang ke panti asuhan khusus pria, dan panti asuhan khusus wanita. Di sana kami menyumbangkan sedekah dari kami seperti buku-buku, alat tulis, dsb.

9. Lain-lain

Kami sempat untuk pergi ke beberapa tempat untuk melihat pemandangan, seperti halnya mendaki gunung sedikit dari rumah pada pagi hari sebelum jam 6 pagi untuk melihat matahari terbit di sebelah gunung merapi. Ke pemandangan pegunungan yang lebih tinggi lagi, melihat pemandangan daerah lereng pegunungan dari atas gunung. Ke sungai di bawah lereng.

Dan setelah saya mengikuti Live In ini, saya banyak belajar mengenai orang pedesaan:

  1. Orang pedesaan itu tidak suka baju dengan warna putih.
  2. Mereka sangat baik dan menganggap kami (tamu) sebagai layaknya anak mereka.
  3. Mereka saling mengenal tetangganya satu sama lain.
  4. Makanan mereka enak.

About Deni Yang

Not much to describe. Just an ordinary boy.

3 responses to “Live In Yogyakarta-Boro 2008

  1. wow.
    Live-in , jadi keinget , pas gw live in kemaren itu ,wkwkwkw..
    lu nanak nasi , dkk ? gw aj pas live-in gak bantuin ibunya masak.. malah ngerepotin , suruh buatin supermi , wkwkwk.

  2. R.N.H

    huaaahhh…
    jadi pengen Live in lagi.
    waLaupun serem malemnya,
    Tapi ketutup m pengalaman lah..
    hahaha….
    Pengalaman ngasih makan babi, ngasih makan kambing T.T..
    kLo di rumah ngasih makan nyamuk doank pake darah kita.haha..

    Btw,,
    Lam kenal.

  3. Kvin Jo wiLL

    koko juga live in di sno ya??
    kita kan baru pulang..asik ya makannanya!!gila!!

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates @yDeni

Error: Please make sure the Twitter account is public.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 15 other followers

Flickr Photos

Two big towers in #Sudirman #carfreeday #jakarta #phaseui80 #phase80 #sky #cloud #sports #jogging #health

Ladders to the next level

DSCN1030

More Photos
%d bloggers like this: