A Confession: The Rule Of Consequences


Seringkali di dalam hidup ini, kita bertemu dan dihadapkan dengan beribu-ribu macam konsekuensi. Konsekuensi akan selalu ada dan terjadi dalam masing-masing kehidupan kita.

Menurut saya, konsekuensi mirip dengan hukum sebab akibat. Hukum ini dapat dibagi menjadi 2, seperti halnya Konsekuensi yang baik, dan konsekuensi yang buruk.

Konsekuensi yang baik adalah akibat yang terjadi karena kita telah melakukan hal yang benar dan sungguh bermanfaat. Misalnya saja adalah apabila kita makan, tentunya kita akan kenyang. Karena kita kenyang, kita dapat beraktivitas. Karena kita dapat beraktivitas, maka kita dapat memperoleh gaji. Begitu seterusnya.

Konsekuensi yang buruk adalah akibat yang terjadi karena kita telah melakukan hal yang salah/tidak sesuai keadaan. Misalnya saja apabila kita tidak belajar, maka kita dapat menjadi malas. Karena malas, kita tidak memperoleh ilmu. Karena tidak memperoleh ilmu, kita jadi berwawasan sempit. Karena berwawasan sempit, maka kita jadi sulit memperoleh pekerjaan. Begitu seterusnya.

Saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya. Saya bisa dibilang akan membagikan pengalaman saya ketika saya menerima konsekuensi yang buruk. Berikut ini adalah pengalaman2 saya:

  • Saya seringkali berkata mengenai hal yang tidak perlu, atau bisa dibilang pada moment yang kurang pas. Konsekuensinya, saya seringkali dibilang geje olehnya.
  • Saya seringkali terlalu banyak bicara, karena saya memang talkative person. Konsekuensinya, saya seringkali dibilang bawel olehnya.
  • Saya seringkali terlalu banyak bercanda dengan bahan candaan yang aneh. Konsekuensinya, saya seringkali dibilang “jijik” olehnya.
  • Saya agak jarang mengajaknya bicara, karena saya takut dikatakan bawel. Konsekuensinya, saya tidak terlalu sering diajak bicara juga olehnya.
  • dll

Begitu banyaknya konsekuensi buruk yang saya terima akhir2 ini. Saya menjadi sungguh frustrasi dan bingung. Namun, jika diselidiki lebih jauh, sepertinya kenyataannya konsekuensi tersebut saya terima akibat dari kesalahan saya sendiri. Saya tidak ingin menyalahkan teman2 saya. Memang hanya saya lah yang telah melakukan hal-hal yang memang salah. Saya sungguh menjadi bingung, apakah saya harus menghilangkan seluruh sikap saya tersebut dengan menjadi orang yang kurang bersemangat? Tapi memang itulah saya. Saya tidak dapat menjaga image saya. Saya adalah manusia yang apa adanya. Begitulah kepribadian saya, bersemangat, namun agak bawel, geje, dan aneh, serta menjijikkan.

Apa yang harus kulakukan?!? Apakah saya memang tidak mampu maju lebih jauh?!? Hanya berpikir positif lah yang dapat saya lakukan dan berjalan seperti biasanya, untuk saat ini.😦

Untuk para pembaca blog saya, lakukanlah hal2 yang memang memiliki konsekuensi yang positif, demi mencapai TUJUAN/GOAL anda. Jangan pernah menyerah! Good luck & Think Positively!😀

About Deni Yang

Not much to describe. Just an ordinary boy.

2 responses to “A Confession: The Rule Of Consequences

  1. huahhh den kayaknya gua tau deh itu sapa
    hahahahaha

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates @yDeni

Error: Please make sure the Twitter account is public.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 15 other followers

Flickr Photos

Two big towers in #Sudirman #carfreeday #jakarta #phaseui80 #phase80 #sky #cloud #sports #jogging #health

Ladders to the next level

DSCN1030

More Photos
%d bloggers like this: