Review: Marley & Me


Sebuah pernikahan merupakan hal yang sungguh indah dan sakral. Begitu pula yang dialami oleh seorang John Grogan dan Jenny. Setelah menikah, mereka berdua pergi ke tempat lain dari Michigan yang sungguh dingin ke Southern Florida. John dan Jenny merupakan sepasang kekasih yang bekerja dibidang jurnalistik, menjadi seorang reporter yang hebat merupakan cita-cita John. Sahabat karib John, Sebastian Tunney, memberikan ide kepada John beserta istrinya untuk mengadopsi seekor anjing. Di tempat pengadopsian anjing, dipilihlah seekor anak anjing yang sungguh lucu, namun disebut-sebut sebagai anak anjing yang tidak ingin dipelihara oleh siapa pun.

Petualangan anak anjing yang diberi nama Marley (karena mendengar lagu yg dinyanyikan Bob Marley) ini akhirnya dimulai. Tanpa keberadaan Jenny, John satu-satunya orang yang mengasuhnya. Coba lihat apa yang terjadi. Marley menggigiti lantai. Marley mencoba mengejar burung-burung di pantai. Marley menggigiti bantal ketika John sedang tidur. Marley lari ke sana ke mari. Sungguh anjing yang nakal dan sulit dikontrol, sampai-sampai John menyebutnya World’s Worst Dog. Kenakalan Marley tidak berhenti di masa mudanya saja. Beranjak dewasa, dengan tubuh yang semakin kuat dan besar, ternyata ia masih merupakan Marley yang dulu. Lihat saja ketika Marley diajak oleh John dan Jenny untuk mengikuti kelas anjing. Bahkan instruktur kelas anjing itu pun tidak dituruti oleh Marley, malahan Marley menunjukkan kenakalannya yang luar biasa namun mengundang tawa itu, akibatnya Marley pun diusir dari tempat pelatihan. Hanya saja, John dan Jenny tetap menyayangi Marley, memang begitulah sifat Marley, dan John beserta Jenny tahu dan menerima sifat itu, terlepas dari betapa nakal dan tidak terkontrolnya ia.


John dan Jenny semakin tua, begitu pula yang dialami oleh Marley. Memiliki 3 orang anak sungguh melelahkan, ditambah dengan adanya seekor anjing nakal. Bagi segenap orang, mungkin akan berpikir, ‘Lengkap sudah penderitaan ini’. Begitu pula yang dialami oleh keluarga John. Sampai-sampai, berkat kenakalan Marley yang tiada habisnya, ia terpaksa dititipkan ke rumah sahabat John. Di umur yang ke 40 tahun, John mendapatkan pekerjaan baru sehingga mereka sekeluarga pindah ke Pennsylvania. Di sana, Marley terlihat sungguh tua, terlebih ketika ditemukannya tanda-tanda penyakit artritis dan tuli padanya. Hari-hari yang mendebarkan pun dimulai ketika Marley terserang penyakit “Bloat”. Untungnya, setelah dirawat di rumah sakit, ia kembali pulih. Dokter mengatakan bahwa serangan Bloat yang kedua tidak akan dapat ditanganinya lagi karena kondisi Marley yang sungguh lemah. Ya, Marley sudah sangat tua untuk dioperasi. Ternyata benar, pada serangannya yang kedua, Marley sungguh menderita, tidak ada yang mampu diperbuat oleh John, bahkan Dokter. Lantas, apa yang harus dilakukan? John dan Jenny mengambil langkah terakhir untuk menghentikan penderitaan yang dialami oleh Marley. Eutanasia jawabannya. Sungguh sedih.


Film yang diambil dari buku mengenai kisah kehidupan John Grogan dan Marley (Marley & Me) memang sungguh luar biasa. Marley & Me mengajarkan berbagai hal realita yang dialami oleh orang-orang. Kehidupan sebagai seorang ayah, seorang ibu, dan 3 orang anak ditambah dengan seekor anjing. Semua ini ada di dalam kehidupan kita masing-masing. Jen yang harus berhenti bekerja dan fokus untuk mengurus anak-anaknya, John sebagai figur seorang ayah yang bekerja keras demi menghidupi keluarganya, dan Marley, seekor anjing yang meniupkan nafas dan memberi warna di kehidupan keluarga John, tentunya dengan keaktifan dan kenakalannya.

Walaupun tidak membaca tulisan aslinya (buku), namun tetap saja pesan dan keinginan penulis mampu menyerap masuk ke dalam otak para penonton dan menguak emosi penonton. Bayangkan, betapa cintanya John dan Jenny terhadap Marley. Ia sungguh merupakan anjing yang nakalnya berada di level sangat tinggi, namun cinta tetap mengalahkan segalanya. Marley mulai diasuh sejak ia masih kecil, dan kenakalannya pun sudah dimulai sejak itu. Tetap saja, John sabar dan menerima sifatnya itu. Anjing memang sahabat manusia yang paling setia, dan John tahu itu. Adegan 20 menit terakhir sungguh memuaskan. Kenangan-kenangan mengenai masa kecil hingga dewasanya Marley muncul di otak saya walaupun saya bukanlah pemiliknya. Betapa baik dan berharganya Marley itu bagi John dan keluarganya, bahkan anak-anaknya sekalipun, yang mungkin baru mulai melihat Marley selama beberapa tahun, sungguh sedih mendengar Marley yang jatuh sakit. Di adegan dieutanasianya Marley mungkin akan mengundang isak tangis bagi para penonton yang sungguh tersentuh oleh film ini. Di sinilah letak pandainya sutradara dalam menggambarkan buku John Grogan. Selain itu, digambarkan juga pemakaman Marley di bawah pohon yang letaknya di belakang pekarangan rumah John, dengan upacara kecil-kecilan, dimasukkannya perhiasan milik Jen yang sempat dimakan oleh Marley, dibacakannya surat yang dibuat oleh anak-anak John dan Jen, itu semua sebagai bentuk penghormatan, dan ini mengundang jatuhnya air mata ke pipi penonton.

Sekali lagi, anjing memang sahabat manusia yang paling setia, dan manusia pun diharapkan setia terhadap anjingnya serta orang-orang yang penting serta spesial baginya. Really, it is worth to be watched.

Rating: 4.5/5

About Deni Yang

Not much to describe. Just an ordinary boy.

2 responses to “Review: Marley & Me

  1. Wah. Review yang bagus, Bro! Salam kenal, ya!🙂

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter Updates @yDeni

Error: Please make sure the Twitter account is public.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 15 other followers

Flickr Photos

Two big towers in #Sudirman #carfreeday #jakarta #phaseui80 #phase80 #sky #cloud #sports #jogging #health

Ladders to the next level

DSCN1030

More Photos
%d bloggers like this: